Kasus Gadai Mobil Berujung Penganiayaan: Dua Oknum APH Diduga Terlibat Dalam Pengeroyokan

Berita1041 Views
banner 468x60

 

Caption: Wajah Memar/Lebam Yang Dialami Oleh Gusti. (Foto: Ist)

Bangka Belitung – Gusti alias Buyai (31), warga Sungailiat menjadi korban penganiayaan brutal yang diduga melibatkan dua oknum aparatur penegak hukum (APH), yakni BD oknum TNI dan BB oknum Brimob serta empat orang preman. Akibat kejadian ini, wajah gusti lebam parah dan ia berencana menempuh jalur hukum.

banner 336x280

Awal masalah: Gadai Mobil Untuk Bayar Hutang

Peristiwa ini bermula, ketika Gusti menyewa sebuah mobil dan menggadaikannya kepada BD dan BB seharga Rp8 juta. Ia berjanji mengembalikan uang itu sebesar Rp10 juta dalam waktu tiga hari. Namun, uang hasil gadai tersebut digunakan untuk bayar hutangnya di Sungailiat, dan Gusti gagal memenuhi janji pengembalian dana dalam waktu yang telah disepakati. Kamis (16/01/25).

Istri Gusti Dibawa ke Pangkalpinang

Setelah tenggat waktu berlalu, BD dan pemilik mobil menjemput istri Gusti dari Desa Petaling ke Pangkalpinang untuk dimintai keterangan. Menurut pengakuan Gusti, istrinya sempat menghubunginya via seluler sembari menangis karena tidak memahami permasalahan ini. Hingga jam dua belas malam, istrinya disuruh pulang berjalan kaki tanpa diantar oleh BD dan pemilik mobil.

Edi Teman Gusti Juga Menjadi Korban Penganiayaan

Tidak berhenti di situ, Edi selaku temannya Gusti yang menyewa mobil juga mengalami intimidasi. Edi dijemput paksa oleh BD dan BB dibawa ke Sungailiat, dan sempat dipukuli sebelum akhirnya dipulangkan ke Sungailiat.

“Menurut cerita istri saya, Edi dipaksa menyerahkan motor dan surat-suratnya sebagai jaminan,” ungkap gusti kepada tim journal. Selasa siang (21/01/25).

Tindakan Kekerasan Terhadap Gusti

Beberapa hari kemudian, Gusti bertemu dengan empat orang preman, BD dan BB di Sungailiat untuk menyelesaikan masalah. Dalam pertemuan itu, Gusti sempat meminta maaf atas kekhilafannya. Tetapi permintaan maafnya tidak diterima, ia malah diborgol dan dipukuli hingga wajahnya lebam.

“Saya hanya bisa pasrah dan diam, karena saya salah dan tangan dalam keadaan diborgol. Mereka menghajar wajah saya hingga lebam/memar,” tutur Gusti dengan nada penuh kesedihan.

Dipaksa ke Kantor Polres Bangka

Setelah pemukulan itu, Gusti dibawa ke Polres Bangka oleh BD dan BB. Di hadapan petugas Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT), Gusti menjelaskan bahwa temannya Edi telah membayar dana gadai mobil tersebut.

“Saya sudah jelaskan semua di SPKT, Dana sudah ditalangi oleh Edi. Namun, malam itu saya tetap dianiaya secara tidak manusiawi oleh BD, BB dan empat orang preman. Padahal urusan sudah selesai,” lanjut Gusti.

Gusti Akan Menempuh Jalur Hukum

Gusti menyatakan bahwa dirinya tidak bisa menerima tindakan kekerasan yang dialaminya. Ia berencana akan menempuh jalur hukum, demi mencari keadilan.

“Saya akan membawa rana ini ke jalur hukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Saya tidak adil diperlakukan seperti ini, terutama istri saya yang mengalami syok ketika dijemput dan disuruh pulang jalan kaki diwaktu tengah malam. Mereka tidak manusiawi lagi memperlakukan keluarga saya,” ujar Gusti dengan air mata berlinang.

Hingga berita ini diterbitkan, tim journal masih berupaya menghubungi pihak-pihak terkait, termasuk BD, BB dan instansi tempat mereka bertugas, untuk mendapatkan klarifikasi resmi. Langkah ini dilakukan guna memastikan informasi akurat dan berimbang yang dapat disajikan kepada publik.

Peristiwa ini menjadi sorotan serius, mengingat keterlibatan oknum APH yang seharusnya menjaga ketertiban masyarakat. Kasus inipun diharapkan dapat diproses dengan transparan agar keadilan tetap ditegakkan.

(TIM JOURNAL)

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *